Al-Hasanah Publishing

Al-Hasanah Publishing
Punya naskah? Ingin diterbitkan jadi sebuah buku? Percayakan naskah Anda bersama penerbitan kami

Jumat, 25 Juni 2021

Analisis Penyebab Kerusakan dan Pelapukan Pada Benda Cagar Budaya

Pembahasan kali ini akan membahas mengenai analisis penyebab kerusakan dan pelapukan pada Benda Cagar Budaya. Ada beberapa penyebab sehingga Benda Cagar Budaya mengalami kerusakan dan pelapukan.

Pada umumnya, Benda Cagar Budaya mengalami kerusakan karena disebabkan oleh:

  1. Klimatologi. Membahas kerusakan dan pelapukan Benda Cagar Budaya, tidak terlepas hubungannya dengan klimatologi yang merupakan ilmu yang memperlajari tentang iklim di suatu daerah tertentu. Klimatologi sangat berperan dalam kerusakan dan pelapukan Benda Cagar Budaya karena pemicu berkembangnya faktor biotis sangat didukung dengan keadaan klimatologi suatu daerah tempat situs atau Benda Cagar Budaya berada. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas dan batuan menjadi mengembang. Sedangkan pada malam hari, udara menjadi dingin dan batuan menjadi mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
  2. Pembekuan air di dalam batuan. Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini sehingga batuan menjadi rusak atau pecah-pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
  3. Berubahnya air garam menjadi kristal. Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal. Kristal garam ini sangat tajam dan dapat merusak batuan pegunungan disekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai. Gejala suatu benda yang mengalami proses pelapukan fisik ialah terjadinya deformasi, pengelupasan, disintegrasi, atau higroskopis.

Adapun penyebab suatu Benda Cagar Budaya mengalami pelapukan, diantaranya:
  1. Pelapukan Fisika. Misalnya terjadi pelapukan fisika pada batuan, ditandai dengan pecahnya batuan menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil. Ini biasanya disebabkan oleh akar tumbuhan atau perubahan temperatur.
  2. Pelapukan Khemis (Kimia). Pelapukan kimiawi terjadi karena perubahan komposisi kimiawi. Agen utama penyebab pelapukan tipe ini adalah air. Pelapukan jenis ini banyak terjadi di Indonesia dikarenakan banyaknya curah hujn. Gejala suatu benda yang mengalami proses pelapukan kimiawi ialah terjadinya oksidasi, reduksi, korosi, endapan, dan sebagainya.
  3. Pelapukan Biotis. Penyebab pelapukan biotis adalah organisme yaitu binatang, tumbuhan dan manusia. Binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah dan serangga. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuhan pada pelapukan organik dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuhan didalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar-akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktivitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan. Gejala suatu benda yang mengalami pelapukan jenis ini adalah terjadinya dekomposisi, noda, reaksi biokhemis, dan sebagainya. 





Referensi:

Anonim. 2006. Petunjuk Teknis Perawatan Benda Cagar Budaya Bahan Kayu. Jakarta: Direktorat Peninggalan Purbakala-Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Anonim. 2007. "Konservasi BCB Bata dan Permasalahannya", dalam Jurnal RELIK edisi September 2007. Jambi: BP3.




Tidak ada komentar: