Tampilkan postingan dengan label Classical Archaeology (Arkeologi Klasik). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Classical Archaeology (Arkeologi Klasik). Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2022

Telaah Filologi Terhadap Naskah-Naskah India

 Naskah India yang paling tua adalah naskah keagamaan yang ditulis sekitar abad ke-6 SM, yaitu naskah Weda yang merupakan kitab suci agama Hindu yang terdiri atas 4 bagian: Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atarwaweda. Kitab Weda berisi kepercayaan terhadap Dewa, penyembahan dalam upacara ritual, mantra-mantra upacara keagamaan, dan ilmu sihir.

Senin, 24 Oktober 2022

Kajian Filologi di Kawasan India


Melalui kajian filologi, khazanah budaya di kawasan Asia menjadi terungkap luas. Sebelum tarikh masehi, Asia merupakan kawasan yang dihuni oleh bangsa-bangsa yang telah memiliki peradaban tinggi seperti kawasan China dan India.

Senin, 09 Mei 2022

Sejarah Seni Ragam Hias Indonesia



Sejarah seni ragam hias di Indonesia, diawali pada zaman Prasejarah yaitu pada masa Neolitikum sekitar 4000 tahun yang lalu. 

Senin, 21 Juni 2021

Perkembangan Kota Kolonial di Indonesia

Berkembangnya kota-kota besar di Indonesia sekarang ini tidak lepas dari peranan bangsa Eropa terutama Belanda pada saat mereka menguasai hampir seluruh wilayah kepulauan Nusantara, yang memulai perkembangannya dengan kehidupan dalam benteng (intra muros). Ini dibuktikan dengan masih dominannya struktur fisik kota-kota di Indonesia yang pernah dirancang oleh bangsa Eropa, seperti yang tampak pada kota Jakarta, Surabaya, Makassar bahkan Semarang disebut sebagai "Little Netherlands" dan Bandung sebagai "Paris Van Java". Hal ini membuktikan bahwa kota-kota tersebut tetap menampilkan struktur kota kolonial sebagai bagian dari perkembangan kota.

Sabtu, 16 Januari 2021

Kerajaan-Kerajaan Maritim di Indonesia

sumber: encrypted-tbn0.gstatic.com


Munculnya kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara pada masa lalu merupakat fakta sejarah yang kebenarannya tak tersanggahkan. Dalam buku Sejarah Maritim Indonesia karya Hamin Benardie SP (2003) tercatat berbagai rute pelayaran, perdagangan, serta kegiatan pembangunan perkapalan (galangan kapal/perahu) di kerajaan-kerajaan besar Nusantara, yang menitikberatkan kepada pembangunan kekuatan maritim. 

Jumat, 15 Januari 2021

Kerajaan Maritim di Nusantara

sumber: encrypted-tbn0.gstatic.com


 Negara dan bangsa Indonesia dengan karakteristik sosial budaya baharinya, bukanlah fenomena baru di Nusantara. Fakta sejarah menunjukkan bahwa fenomena kehidupan bahari bangsa Indonesia saat ini, khususnya bidang birokrasi/pemerintahan, pelayaran, dan perikanan merupakan kontinyuitas dari proses perkembangan fluktuatif dari kehidupan bahari masa lalu.

Rabu, 07 Oktober 2020

Pengantar Seni Ragam Hias Indonesia

 


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Materi awal seni ragam hias pada kesempatan kali ini, dimulai dengan membahas mengenai "Pengantar Seni Ragam Hias Indonesia. Dimana pada kesempatan ini, menjelaskan ruang lingkup serta tujuan mempelajari seni ragam hias Indonesia untuk arkeologi.


Jumat, 17 Januari 2020

Pengertian dan Sejarah Prasasti

Epigrafi merupakan suatu cabang ilmu yang berusaha meneliti benda-benda tertulis yang berasal dari masa lampau. Ketika berbicara mengenai epigrafi, hal ini berarti juga berbicara mengenai prasasti. Prasasti merupakan suatu tulisan kuno yang dipahat di atas bahan yang tahan lama, misalnya batu, timah, tembaga, dan di atas lempengan emas.

Pada zaman modern ini, peresmian suatu proyek pembangunan sering ditandai dengan penandatanganan prasasti. Di dalam prasati itu antara lain diuraikan nama proyek atau bangunan tersebut, lokasinya, waktu peresmian, dan nama serta tanda tangan pejabat yang meresmikan. Prasasti bukan hanya berasal dari masa sekarang, namun prasasti telah dikenal sejak masa lalu. Ditemukannya prasasti pada sejumlah situs arkeologi menandakan berakhirnya masa prasejarah atau praaksara, yaitu babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tulisan.

Selasa, 08 Oktober 2019

Perkembangan Ragam Hias di Indonesia

Ragam hias yang terdapat diberbagai tinggalan di Indonesia ditampilkan sesuai dengan fungsinya pada berbagai material seperti kayu, tembikar, batu dan kain tenun. Hal ini menunjukkan bahwa ragam hias adalah wujud dari budaya. Wujud budaya tersebut kemudian mengalami perkembangan. Budaya yang ada mengalami proses perubahan hingga membentuk akulturasi budaya. Akulturasi yang terjadi dapat dilihat pada beberapa ragam hias pada tinggalan masa lalu.

Jumat, 04 Oktober 2019

Sejarah dan Bentuk Ragam Hias Indonesia

Seni ragam hias atau yang biasa dikenal dengan istilah ornamen telah dikenal masyarakat sejak masa prasejarah. Hal ini ditandai dengan banyaknya tinggalan yang memiliki ornamen, mulai dari masa prasejarah hingga kolonialisasi. Berdasarkan tinggalan yang ada, menunjukkan bahwa ornamen telah ada pada kehidupan masyarakat prasejarah yakni pada masa Neolithikum, kira-kira 4000 tahun yang lalu. Selain itu, ornamen sangat banyak dijumpai pada tinggalan-tinggalan masa klasik atau yang dikenal juga dengan masa Hindu-Budha, serta pada masa Islam. Ornamen yang paling tua ditemukan kurang lebih berumur 150 Masehi. Sekitar tahun 1275 Masehi, tepatnya masa kolonial, ornamen banyak dijumpai pada tinggalan-tinggalan bangunan.

Selasa, 02 April 2019

ASIA TENGGARA SEBAGAI JALUR PERSIMPANGAN (PENGARUH INDIA)


Salah satu Bab dalam buku “The Borderlands of Shoutheast Asia: Geopolitics, Terrorism, and Globalization” yang ditulis oleh Michael Wood membahas mengenai bagaimana arkeologi, sebuah studi yang mempelajari mengenai budaya material masyarakat masa lalu telah digunakan dalam mendefinisikan dan mengkritik sejarah dan perbatasan nasional yang ada di Asia Tenggara. Arkeolog memiliki cara membaca budaya secara luas dengan cara direkonstruksi atau diidentifikasi menggunakan artefak untuk membahas budaya yang ada di dunia. Budaya atau peradaban yang biasa diungkapkan terkadang tidak sama dengan negara modern (atau dalam ha ini mengenai politik kuno). Hal ini khusus terjadi untuk wilayah Asia Tenggara, wilayah yang memiliki budaya lama yang lebih besar dan terbuka untuk mempengaruhi penyeberangan yang terjadi di daerah perbatasan. Asia Tenggara telah dikenal sebagai sebuah “Persimpangan Jalan” namun uraiannya tidak akurat.

Jumat, 29 Maret 2019

Asia Tenggara Sebagai Pusat Urbanisasi Masa Lalu?


 Pict from paper John N Miksic "Southeast Asia: ancient centre of urbanization"

Pembahasan mengenai pusat urbanisasi masa lalu telah banyak diteliti dan ditulis oleh ilmuwan, salah satunya adalah tulisan yang dibuat oleh John N. Miksic yang membahas mengenai “Southeast Asia: ancient centre of urbanization?”. Di dalam tulisan Miksic membahas mengenai studi urbanisasi awal Asia Tenggara yang mengungkapkan respon manusia terhadap lingkungan yang pada akhirnya membentuk entitas yang dikenal pada saat ini dengan istilah “kota”. 

Sabtu, 02 Februari 2019

HASIL PENELITIAN YANG BERUPA PARADIGMA PROSESUAL

Potensi dan Prospek Kompleks
Situs Arkeologi Batujaya


 A. Apresiasi Hasil Penelitian
Laporan hasil penelitian yang diajukan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya ini, yang dilaksanakan oleh suatu tim ahli arkeologi yang dipimpin oleh Drs. Hasan Djafar, telah menyajikan hasil penelitian mutahir (hingga akhir 1999) serta merangkumkan pula hasil-hasil penelitian terdahulu di kawasan yang sama. Dalam laporan itu dipaparkan sejumlah fakta arkeologis yang telah dimulculkan melalui sejumlah ekskavasi pada 12 di antara 24 lokasi yang diketahui mengandung peninggalan kepurbakalaan. Dalam hubungan dengan kebutuhan untuk menamakan lokasi-lokasi ini perlu kiranya dibuat pembedaan berdasarkan dimensi dan tatarannya. Kalau istilah “situs” sudah digunakan untuk keseluruhan kompleks unur-unur (bukit-bukit kecil) yang terdapat diseluruh daerah (kecamatan/desa) Batujaya, yang terdiri dari beberapa lokasi di kampung Telagajaya dan kampung Segaran, maka mestinya istilah yang sama tidak dapat digunakan untuk masing-masing unur atau lokasi yang dinamai Segaran (SEG) I-IX dan Telagajaya (TLJ) I-VIII. Atau, kalau masing-masing lokasi temuan itu dinamakan situs, seperti yang digunakan juga dalam laporan (situs Segaran I, situs Telagajaya I, dan seterusnya), maka kawasan temuan yang lebih luas di desa Batujaya itu dapat disebut “kompleks situs” atau “agrerat situs”.
Penomoran situs-situs yang 24 itu dibuat berurut berdasarkan asas prioritas penemuan dan penelitiannya. Pemaparan yang telah dibuat oleh Hasan Djafar dan tim itu telah merangkumkan seluruh hasil penelitian sejak 1984, dan itu memberikan pandangan baru mengenai masa sejarah awal di Indonesia, di Pulau Jawa khususnya. Hasil penelitian-penelitian itu telah mengungkapkan fakta –fakta, seperti terdapatnya bangunan-bangunan dari batu bata dengan beberapa petunjuk bahwa penggunaannya adalah sebagai sarana keagamaan (khususnya agama Buddha); digunakannya votive tablets dari tanah liat bakar yang di tempat-tempat lain diketahui merupakan kebiasaan di kalangan umat agama Buddha; ditemukan juga suatu benda batu yang mirip sebuah lingga (lambang Siwa dalam agama Hindu), namun mungkin harus lebih dilihat sebagai sejenis menhir dalam kebudayaan prasejarah; penggunaan lepa putih pada permukaan dinding bangunan; dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Sumarah Adhyatman di daerah aliran sungai Citarum yang juga melintasi daerah Batujaya ditemukan sejumlah keramik Cina yang menunjuk pada jangka waktu abad ke-9 hingga ke-14 M.
Laporan Hasan Djafar dan tim ini disertai pula anĂ¡lisis keadaan geografis, formasi tanah, dan karakternya yang terkait dengan curah hujan, banjir, dan peresapan air.

Artikel Popular Pekan Ini