Al-Hasanah Publishing

Al-Hasanah Publishing
Punya naskah? Ingin diterbitkan jadi sebuah buku? Percayakan naskah Anda bersama penerbitan kami

Kamis, 21 Februari 2019

LABORATORIUM DALAM DUNIA ARKEOLOGI


Laboratorium memiliki pengertian yang beragam, ada yang mengatakan bahwa laboratorium atau biasa disingkat dengan lab. merupakan tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah (id.wikipedia.org,2011). Laboratorium dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Sedangkan menurut Sukronedi (2006), laboratorium merupakan suatu tempat untuk melakukan kegiatan penelitian, percobaan, atau analisis.

Laboratorium berfungsi untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan agar hasil pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi kualitas, kuantitas, maupun ilmiah, serta membantu memecahkan permasalahan yang terkait dengan bidang kegiatan yang diteliti (Sukronesi, 2006). Laboratorium bermacam-macam, yang dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, serta laboratorium arkeologi dan laboratorium lainnya.

Laboratorium di dalam dunia arkeologi telah dikenal sejak tahun 1950-an hingga 1980-an, yaitu pada saat munculnya arkeologi prosesual (Fagan, 1985 dalam Sumantri, 2000:3). Kemunculan laboratorium lebih dikenal dengan laboratorium analisis yang dipelopori oleh Lewis Binford. Lewis Binford yang dipengaruhi kuat oleh Leslie White, Julain Steward, dan Albert Spaulding, memformulasikan metode dan teori baru yang berkenaan dengan arkeologi dengan menggunakan metode-metode ilmiah (Fagan, 1985 dalam Sumantri, 2000:3).

Laboratorium analisis dalam arkeologi terus digunakan hingga saat sekarang ini. Penggunaan laboratorium analisis arkeologi tidak hanya pada analisis artefak saja, yaitu bentuk, fungsi dan waktu. Pemanfaatan laboratorium juga digunakan kesegala sesuatu yang dianggap dapat menjelaskan masa lalu. Peter L. Drewett (1999) dalam bukunya yang berjudul "Field Archaeology: An Introduction", mengatakan bahwa Lewis Binford menggunakan percobaan kimia dalam membenarkan ataupun membantah sebuah hipotesis.

Laboratorium arkeologi saat ini dikenal ada dua macam, yaitu laboratorium ruang dan laboratorium lapangan. Kedua laboratorium tersebut pada dasarnya sama, akan tetapi yang membedakannya adalah lokasi pelaksanaannya. Pada umumnya, laboratorium ruang arkeologi dilakukan di dalam sebuah ruangan tertutup, sedangkan laboratorium lapangan arkeologi dilakukan di lapangan atau lokasi penelitian. Adanya perbedaan lokasi tersebut diakibatkan oleh perbedaan perlakuan terhadap benda atau objek yang dijadikan bahan penelitian.

Benda atau objek penelitian yang dilakukan di dalam laboratorium ruang yaitu objek yang mudah dibawa atau dapat berpindah tempat, sedangkan laboratorium lapangan yaitu objek atau benda yang tidak dapat berpindah tempat, misalnya lukisan dinding gua yang ada di Bellae, Pangkep. Bahan dan alat yang digunakan di laboratorium ruang maupun lapangan adalah sama, hanya saja perbedaannya tergantung dari jenis penelitiannya.

Laboratorium analisis dalam arkeologi digunakan untuk menjelaskan masa lalu, misalnya analisis serbuk sari. Analisis serbuk sari (pollen) atau palynologi, menggunakan fosil-fosil serbuk sari rumput-rumputan dan pepohonan hutan untuk mempelajari hal ikhwal yang berhubungan dengan vegetasi prasejarah yang diliputi dengan akurasi yang tinggi (Fagan,1985 dalam Sumantri,2000:5). Penggunaan serbuk sari dalam analisis laboratorium arkeologi menghasilkan informasi ekologi tentang glasiasi dan interglasiasi, dan juga pengertian yang dalam terhadap lingkungan-lingkungan sekitar situs-situs arkeologi.

Penggunaan serbuk sari dalam analisis juga dapat mengetahui bagaimana perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia pada masa lampau. Analisis serbuk sari telah digunakan dalam sebuah penelitian yang ingin mengetahui tipe serbuk sari yang digunakan sebagai indikator adanya aktivitas manusia masa lampau di Pegunungan Dieng (Pudjoarianto,1999:329).

Hasil penelitian tersebut diperoleh struktur dan komposisi floristik vetasi di Pegunungan Dieng pada masa lampau, telah mengalami perubahan-perubahan yang diantaranya disebabkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia tersebut telah berpengaruh sejak kurang lebih tahun 500 AD. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya area hutan dan bertambahnya tumbuhan semak, herba, serta tanaman budidaya, diantaranya: tingginya presentase tipe serbuk sari non-pohon, trema orientalis, plantago major, dan tipe serbuk sari tanaman budidaya pada sedimen pengendapan (Pudjorianto, 1999:336-340).




SUMBER PUSTAKA

Anonim. 2011. "Laboratorium". http:id.wikipedia.org/wiki/Laboratorium. (Diakses, 13 Mei 2011).
Drewett, Peter L. 1999. Field Archaeology: An Introduction. London: UCL Press.

Pudjoarianto, Agus. 1999. "Interpretasi Palinologi Pengaruh Aktivitas Manusia Terhadap Flora dan Vegetasi di Pegunungan Dieng", Biologi Vol.2, No.7-Juni. Yogyakarta: UGM. Hlm: 329-342.

Sukronedi, S.Si. 2006. Pengenalan Alat dan Peranan Laboratorium dalam Konservasi.ppt. Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.

Sumantri, Iwan. 2000. Ringkasan dari Buku: In The Beginning, An Introduction to Archaeology. Makassar: Jurusan Arkeologi UNHAS. Tidak terbit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.