Al-Hasanah Publishing

Al-Hasanah Publishing
Punya naskah? Ingin diterbitkan jadi sebuah buku? Percayakan naskah Anda bersama penerbitan kami

Sabtu, 02 Februari 2019

BANGUNAN-BANGUNAN KOLONIAL DI MAKASSAR, SULAWESI SELATAN

BAB I
LATAR BELAKANG

 Sulawesi Selatan merupakan daerah yang memiliki banyak tinggalan-tinggalan arkeologi. Tinggalan-tinggalan arkeologi tersebut tersebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Tinggalan-tinggalan tersebut baik berupa tinggalan-tinggalan prasejarah, kolonial, maupun islam. Tinggalan-tinggalan arkeologi periode kolonial, terutama ditemukan di kota Makassar yang merupakan ibukota dari propinsi Sulawesi Selatan.
Kota Makassar merupakan Kota Kolonial yang paling banyak mendapat pengaruh dari Belanda (Eropa). Perkembangan tata ruang kotanya dipengaruhi oleh nuansa Belanda. Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia (masa penjajahan), makassar merupakan salah satu kota bentukan Belanda yang juga merupakan sirkulasi perdagangan dan pertahanan Belanda. Di tepi Pantai dibangun benteng (ciri khas daerah bekas jajahan belanda) penamaan lokasi dan jalan-jalan tertentu/penting memakai bahasa belanda, dan permukiman di pisahkan menurut Etnis dan strata sosial.

Dalam catatan Sejarah Nasional Indonesia, kata “Kolonial” merupakan suatu dinamika  yang mempunyai kurun waktu yang sangat panjang. Apabila kita mengacu pada pengertian “kolonial” yang kata dasarnya adalah “koloni” maka pengertian itu merujuk  pada makna kelompok. Sedangkan pengertian “kolonial” merupakan kata benda yang maknanya terarah pada pengertian orang/kelompok/bangsa yang berkelompok. Sedangkan “kolonial” yang diberi akhiran “isme” pengertiannya menjadi suatu sifat/keinginan suatu kelompok masyarakat atau negara untuk menguasai Negara atau kelompok lainnya.
Berdasarkan pengertian itu, maka dalam bentang sejarah kita dikenal kolonialisme Inggris, Kolonial Belanda dan Jepang. Peninggalan-peninggalan kolonial di Makassar, sampai sekarang masih dapat dilihat material peninggalannya baik berupa bangunan perumahan, perkantoran, pertokoan bahkan sampai sekarang masih ditemukan tinggalan-tinggalan berupa sarana pendidikan dan tempat ibadah (SPSP Sulselra, 2000).
Berdasarkan hal tersebut, maka penulis mencoba untuk membuat laporan yang berjudul “Bangunan-Bangunan Kolonial di Makassar, Sulawesi Selatan”.  Penulis berharap dengan adanya laporan yang penulis buat, dapat memberikan pemahaman kepada setiap orang mengenai bangunan-bangunan kolonial yang ada di Makassar. Bagaimana bentuk-bentuk bangunan kolonial yang ada di Makassar, dan bangunan-bangunan kolonial apa saja yang terdapat di Makassar.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Bangunan Perumahan/Rumah Penduduk
2.1.1. Rumah Jabatan Gubernur

 

Rumah jabatan gubernur atau Gouverneur Woning terletak di Jalan jenderal Sudirman. Rumah ini dibangun pada tahun 1937. Rumah jabatan gubernur ini, hingga saat ini masih digunakan sebagai rumah jabatan gubernur Sulawesi Selatan. Bangunan ini disebelah utara berbatasan dengan Jalan Gunung Klabat, sebelah timur berbatasan dengan Jalan Sungai tangka, sebelah barat dengan Jalan Jenderal Sudirman, dan di sebelah selatan dengan Jalan Sungai Saddang
Secara keseluruhan, rumah jabatan berciri modern dengan unsur-unsur tradisionalnya dapat terlihat pada atap yang berbentuk limasan ditutup dengan sirap. Walaupun unsur  tradisional pada rumah jabatan gubernur ini sangat sedikit yang dapat kita jumpai,  akan tetapi bangunan sangat disesuaikan dengan iklim tropis sesuai dengan iklim yang berlaku di Makassar.

2.1.2. Rumah di Jalan Datumuseng
Rumah tinggal ini berada di Jalan Datumuseng. Bentuk bangunan rumah bergaya campuran antara gaya modern-klasik, dimana bangunan langsung berada di depan jalan atau tanpa adanya halaman. Bangunan mempunyai ukuran cukup besar dan bertingkat (Anomin, 1991-1992). Bentuk tatanan ruangan/aglomerasi, terdiri atas unit pelayanan, kamar mandi, dapur, garasi, dan gudang yang terpisah dibelakang dari unit utama yang dibuat bertingkat.
Konstruksi utama bangunan menggunakan bahan batuan. Penggunaan konstruksi kayu hanya terlihat pada tangga menuju lantai atas yang letaknya berhadapan denga ruang makan yang mempunyai denah berbentuk L. Selain itu, konstruksi kayu juga digunakan pada pintu dan jendela. Bangunan ini juga dihias dengan hiasan gaya art deco yang terletak pada jendela-jendela atas (Anomin, 1991-1992).

2.1.3. Rumah Kediaman Residen Gubernur

 

Bangunan ini merupakan kantor Poltabes Makassar, dahulu bangunan ini merupakan rumah kediaman residen gubernur. Bangunan ini terdaftar pada SPSP Sulselra (Suaka Peninggaan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara) dengan nomor registrasi 380. Bangunan ini terletak di Jalan Hoogepad, yang sekarang disebut Jalan Ahmad Yani No.9. Terletak di kelurahan Melayu, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Letak astronomis bangunan tersebut ialah S. 05007’09”, E. 119024’45”.
Bangunan kediaman residen gubernur dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda, pada tahun 1885. Bangunan ini pernah mengalami pemugaran pada tahun 1933. Di sebelah utara, bangunan ini berbatasan dengan Jalan Serui, sebelah timur berbatasan Bank Danamon, sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Ahmad Yani, dan sebelah barat berbatasan dengan gedung Bank Bira.
Gaya arsitektur bangunan ini, berciri gotik-klasik. Bangunan ini terdiri atas dua bagian yaitu unit utama dan unit pendukung. Unit utama berfungsi sebagai kantor utama Kapoltabes, Waka Poltabes, Kepala-Kepala dan Kepala-Kepala Tata Usaha Poltabes. Sedangkan bangunan pendukung merupakan ruang Kasat, dan Kabang Poltabes, gudang senjata dan pelataran, pos jaga, kantin, aula, dan garasi.

2.1.4. Rumah Mayor Thoeng
Rumah Kapitan Cina “Mayor Thoeng” terletak di Jalan Bacan nomor 5, kelurahan Ende, kecamatan Wajo, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Secara astronomis, bangunan ini terletak pada S. 05007’07”, E. 119024’57”. Rumah ini merupakan hak milik an. Harry Thoenger. Rumah ini dibangun pada tahun 1927 oleh Mayor Thoeng, dengan gaya arsitektur Klasik Eropa. Rumah ini memiliki luas 1490 m2 dan berdiri di atas lahan seluas 969 m2. Bangunan ini berbatasan dengan rumah tinggal disebelah utara, selatan dan barat, serta Jalan Bacan disebelah timur. Rumah tersebut terdiri atas tiga unit masing-masing unit berlantai dua dan tiga. Unit utama mempunyai tiga lantai jauh lebih besar dari unit lainnya yang hanya dua lantai, ketiganya bersusun secara simetrik. Lantai satu unit utama berfungsi sebagai bengkel, lantai dua berfungsi sebagai rumah tinggal, yang terdiri dari ruang tidur, ruang keluarga dan dapur. Sedang unit lainnya juga merupakan tempat tinggal.
Rumah tersebut merupakan milik seorang saudagar Cina yang bernama Mayor Thoeng. Oleh karena kekayaan dan kekuasaannya, sehingga oleh pemerintah Belanda diberi gelar Mayor, yang artinya pemimpin. Pada tahun 1942 setelah Jepang berkuasa, Mayor Thoeng tidak mau bekerjasama dengan tentara Jepang sehingga dihukum pancung.

2.1.5. Apartemen Sarang Lebah atau Byen Korf
Byen Korf (bahasa Belanda) yang berarti sarang lebah. Bangunan ini terdiri atas satu buah yang terbuat dari batu bata, semen dan kayu. Bangunan ini bertingkat dua. Bangunan ini dibangun pada tahun 1899 dengan pemilik pertamanya yaitu Ny. Klara Theadora (salah seorang pengusaha Belanda). Bangunan ini pertama digunakan sebagai mess guru-guru Belanda dan ada juga informasi bahwa tempat ini adalah tempat bujangan orang-orang Belanda. Bangunan ini bergaya arsitektur dengan tipe Eropa yang terbuat dari batu bata, semen dan kayu.

2.1.6. Wisma Tamu Corimac

 

Bangunan ini berada di Jalan Jenderal Sudirman nomor 24 A. terletak di kelurahan Sawerigading, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selataan. Secara astronomis terletak pada S. 05008’475”, E. 119024’865”. Bangunan diatas merupakan Rumah Makan Kaisar, dimana pada masa lalu bangunan ini difungsikan sebagai Wisma Corimac. Bangunan ini dahulu adalah wisma yang difungsikan sebagai Gedung Komisariat Makassar, kemudian dijadikan mess perwira tinggi, dan kemudian sekarang difungsikan sebagai Rumah Makan Kaisar. Bangunan ini dibangun oleh Pemerintah Belanda dengan gaya Arsitektur Klasik, pada tahun 1927.  Denah bangunan berbentuk setengah lingkaran, bangunan ini berlantai dua, ruang utama terletak ditengah. Pada sisi kiri dan kanan merupakan serambi berbentuk lingkar.

2.1.7. Rumah Tinggal di Jalan Sumba

 

Rumah tinggal keturunan T.L.Gan terletak di Jl. Sumba bagian timur, yang dahulu bernama Grootestraat. Rumah ini ditempati oleh keturunan T.L.Gan. Dibangun pada tahun 1925 oleh bangsa Tionghoa asli, yaitu seorang pegawai swasta sebagai rumah tinggal.. Bangunan rumah berciri model kontemporer. Bangunan terdiri atas dua unit, yaitu bangunan utama dan dapur. Denah dasar bangunan, berbentuk persegiempat.

2.1.8. Rumah Jabatan Walikota Makassar atau Beerhemister
Lokasi rumah ini terletak di Jalan Somba Opu nomor 283, kelurahan Losari, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Secara astronomis terletak pada S. 05008’08”, E. 119024’51”. Bangunan ini didirikan pada tahun 1933 oleh pemerintah Belanda, dengan gaya arsitektur Modern. Rumah ini berbatasan dengan pemukiman disebelah utara, bangunan Baruga disebelah timur, Jalan H.M. Saleh disebelah selatan, dan Jalan Penghibur disebelah Barat. Bangunan ini didirikan sebagai tempat tinggal Walikota. Bangunan tersebut terdiri dari dua bagian yaitu bangunan utama dan bangunan pendukung. Bangunan utama berlantai dua, lantai ssatu terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan. Lantai dua terdiri dari kamar tidur dan ruang keluarga. Sedang bangunan pendukung terdiri dari kamar tidur pembantu, dapur, kamar mandi, pos jaga dan garasi serta baruga (Aula).

2.1.9. Queenshead
Lokasi bangunan ini terletak di Jalan Balai Kota nomor 11 B. didirikan pada tahun 1946 oleh kolonial Belanda/Australia dengan gaya arsitektur Eropa. Bangunan ini dahulu digunakan oleh Barak Tentara, dan saat ini digunakan oleh kantor PT. Timurama. Luas bangunannya adalah 87 m2 dan berdiri diatas lahan seluas 160 m2. Bangunan ini pernah digunakan oleh militer Belanda pada masa Agresi Militer Belanda yang ke-II. Berbatasan dengan kantor PT. Timurama disebelah utara, timur, dan selatan, serta Jalan Balai Kota disebelah barat. Bangunan ini berdenah dasar segiempat, atap melengkung berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari seng, dan berdinding tembok dari semen. Pada bagian depan tertutup tembok dinding, pada ruang dalam hanya terdapat satu buah kamar yang berfungsi sebagai gudang.

2.1.10. Asrama GOWANI (Gabungan Organisasi Wanita Indonesia)
Bangunan ini tercatat di Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, dengan nomor register 392. Bangunan ini Jalan Amanagappa nomor 2, kelurahan Barru, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Secara astronomis, gedung ini terletak pada S. 05008’17”, E. 119024’06”. Bangunan ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1874, dengan gaya arsitektur Gotik. Bangunan ini dari dulu hingga sekarang difungsikan sebagai asrama putri. Luas bangunannya 372,4 m2 dan berdiri diatas areal 1.973 m2. Bangunan ini diperuntukkan bagi putri-putri bangsawan Sulawesi Selatan yang menuntut ilmu (sekolah) di Makassar. Bangunan berdenah dasar segiempat, berdinding tembok, dan beratap genteng. Bangunan depan terdiri atas empat buah kamar, yang terletak pada bagian tengah yang saling berhadapan sedang bagian depan dan belakang berupa teras-teras untuk menerima tamu.

2.1.11. Paccinang/Kampung Cina

 

Chinatown merupakan kota tua di masa dinasti ming, dimana sekitar abad ke-16 mereka berkunjung ke pesisir pantai selatan di seputaran Benteng Rotterdam untuk berdagang, namun seiring perkembangan usaha, mereka pun akhirnya menetap dan membentuk suatu komunitas di pesisir pantai, tepatnya diseputaran jalan Nusantara, Ahmad Yani hingga di jalan Irian kota Makassar.
Komunitas Cina yang tinggal di perkampungan ini, tetap mempertahankan tradisi nenek moyang mereka, itu dibuktikan dengan masih adanya sebagian bangunan bersejarah yang menjadi ciri khas dari masyarakat keturunan cina tempo dulu tetap berdiri kokok dan sudah dianggap sebagai bangunan Cagar Budaya yang dilindungi sesuai Undang-Undang.

2.1.12. Rumah Tinggal di Jalan Bonerate

 

Rumah tinggal ini terletak di Jl. Bonerate, yaitu berlokasi di Pecinan Town Makassar. Rumah ini dibangun pada tahun 1925 oleh bangsa Tionghoa asli, dengan model kontemporer. Bangunan ini turun-temurun dihuni oleh keturunan dari pemilik pertama.
Bangunan rumah tinggal ini terdiri atas dua bagian, yaitu unit utama dan unit pelayanan. Unit utama terdiri atas teras depan, ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, dan ruang makan. Sedang unit pelayanan terdiri atas ruang dapur, ruang tidur pembantu, kamar mandi, dan garasi mobil di kiri dan kanan bangunan utama.

2.2. Bangunan Perkantoran
2.2.1. Kantor Balaikota

 

Kantor Balaikota dibangun pada awal abad XX, yaitu 1 April 1906 mulai dipakai sebagai Kantor Pemerintahan Belanda. Tahun 1918 gedung ini mulai digunakan oleh Walikota pertama yang bernama J.E. Danbrink (1918-1927) sebagai pusat pemerintahan Kota Makassar pada waktu itu. Sekarang bernama Kantor Walikota Kotamadya Ujung Pandang (Daerah Tingkat II Ujung Pandang). Bangunan
Bangunan terdiri dari dua unit yaitu unit utama dan unit pendukung yang terletak pada bagian belakang. Namun berdasarkan pada tampakan dari luar bangunan kelihatan seperti gedung tunggal dengan bentuk simetris. Bentuk arsitektur bangunan lebih menerapkan konsepsi “garden city” dengan halaman terletak pada bagian depan, samping dan belakang dari bangunan dan tidak menggunakan konsepsi klasik Eropa yang biasanya langsung dibangun di jalan (trotoir). Arsitektur bangunan menghadap ke barat bergaya Neo-Klasik campuran Renaissance dan gothic (Anonim, 1991-1992).
Sistem konstruksi bangunan dari beton. Pintu, jendela, ventilasi lebar dari konstruksi kayu terdapat pada keempat sisi bangunan yang dimaksudkan untuk penghawaan dan merupakan cirri dari bangunan tropis. Selain itu unsur tropis juga diterapkan pada atap yang berbentuk limasan (atap dengan empat sisi miring), dengan kemiringan tajam. Pada sisi miring atap pada bangunan depan terdapat dormer (elemen konstruksi atap Eropa) yang cocok untuk atap bangunan tropis yang berfungsi sebagai ventilasi udara dibawah atap.

2.2.2. Museum Kota Makassar

 

Bangunan yang sekarang digunakan sebagai Museum Kota Makassar, pada awal pembangunannya diperuntukkan sebagai kantor Pemerintah “Gemente Makassar”. Bangunan kantor Walikota (Gemente), tersebut merupakan bangunan kantor Walikota pertama diluar Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam). Gedung Gemente Makassar yang sekarang dikenal dengan “Museum Kota Makassar”, mulai dibangun pada tahun 1906 bersamaan dengan peningkatan status Makassar sebagai Gemente (Kota Besar). Gedung itu selesai dibangun dan diresmikan penggunaannya oleh Walikota I Gemente Makassar yang berkebangsaan Belanda, yakni J.E. Danbrink pada tahun 1918. Bangunan tersebut digunakan sebagai kantor Walikota hingga akhir kekuasaan pemerintah Belanda tahun 1942.
Awalnya gedung ini difungsikan sebagai Kantor Walikota Makassar, kemudian difungsikan kantor Dinas-Dinas Kota kemudian difungsikan sebagai Museum Kota yang sekarang dikenal sebagai “Museum Kota Makassar”. Bangunan ini dari segi keletakannya, tidak mengikuti konsep bangunan Eropa Klasik, namun menerapkan konsep “Garden City”, yakni bangunan yang dikelilingi oleh halaman baik depan, samping maupun belakang. Dari segi arsitektur bangunan itu bergaya Neo Klasik campuran Renaisance dan Ghotik (Anonim, 1991-1992). Gedung Museum Kota, terdiri atas dua unit bangunan, yaitu unit utama dan unit pendukung dibagian belakang.

2.2.3. Kantor Pengadilan Negeri Makassar

 

Bangunan Pengadilan Negeri Makassar, dahulu bernama Road van Justitia. Bangunan ini terletak di Jalan Kartini, dan diduga dibangun pada tahun 1915. Dari segi arsitektur, gedung Pengadilan Negeri Makassar mengambil gaya Neo Klasik Eropa Campuran, Renaissance dan Romawi (Anonim, 1991-1992: 56). Bentuk bangunan Pengadilan Negeri Makassar, yaitu simetris terdiri atas satu bangunan kemudian dibagi menjadi empat unit segiempat panjang, dimana antara satu unit dengan unit lainnya saling berhubungan membentuk bujur sangkar dan memanjang utara-selatan. Di depan bangunan utama terdapat halaman yang cukup luas dikelilingi oleh pagar yang dibuat belakangan dari konstruksi batu membentuk bidang-bidang horizontal dan vertikal. Sistem konstruksi bangunan Pengadilan Negeri Makassar bahan-bahannya terdiri dari bahan beton, batu bata dan kayu. Ornament bangunan cukup menarik dimana hiasan pada kaki, badan dan kepala tidak menggunakan ornament Klasik Eropa tetapi mengambil gaya tradisional.

2.2.4. Kantor Direktorat Jendral Anggaran

 

Bangunan Kantor Direktorat Jendral Anggara, dahulu bernama Central Cantoor de Comptabilited (CKC) yang merupakan kantor keuangan Belanda.  Bangunan ini terletak di Jalan Riburane nomor 1, kelurahan Melayu, kecamatan Wajo, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Letak astronomis bangunan ini, yaitu S. 05008’00”, E. 119024’30”. Bangunan ini didirikan pada tahun 1910 oleh kolonial Belanda, dengan gaya arsitektur Neo-Eropa. Bangunan CKC berbatasan dengan pemukiman disebelah utara, Jalan Bonerate disebelah timur, Jalan Riburane disebelah selatan, dan Jalan Jampea disebelah barat.
Bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor gubernur selama satu tahun, sebelum pindah ke kantor yang baru yang menempati “Park”. Pada masa pemerintahan Indonesia berubah menjadi Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN). Sekarang bangunan ini terdiri atas dua kantor yaitu Kantor Anggaran dan Balai Diklat Keuangan (STAN). Bangunan berdenah dasar segiempat. Pintu masuk ada dua yaitu dari arah selatan sebagai pintu utama dan dari arah barat. Atap bangunan berbentuk limasan.

2.2.5. Kantor Pos Divisi Ekspedisi

 

Kantor Pos Unit Divisi Paket dahulu digunakan sebagai Kantor Pos atau Post Cantoor. Kantor ini terletak di Jalan Balai Kota nomor 5, yang dahulu Jalan Gouverneurs Laan. Kantor ini berada di kelurahan Baru, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, dan provinsi Sulawesi Selatan. Kantor ini didirikan pada tahun 1925 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang bergaya arsitektur modern. Bangunan kantor ini memiliki luas 1.125 m2 dan berdiri diatas areal 2.440 m2. Kantor ini berbatasan dengan Gereja Immanuel di sebelah utara, perkantoran disebelah timur, Kantor Telkom disebelah Selatan, dan Jalan Balai Kota disebelah Barat. Bangunan ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian utama terletak pada bagian depan dan bagian belakang merupakan bangunan pendukung. Kantor pos ini dibangun sebagai sarana untuk memperlancar korespondensi orang-orang Eropa di Makassar. Bangunan ini pernah dipugar pada tahun 1992.

2.2.6. Kantor Pos dan Telegram
 

Kantor Kandatel ini dahulu difungsikan sebagai kantor Post en Telegraf Cantoor. Bangunan kantor ini terletak di Jalan Balai Kota nomor 4, kelurahan Bulogading, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Letak astronomisnya, yaitu S. 05007’09”, E. 119024’08”. Bangunan kantor ini didirikan pada tahun 1940 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, dengan gaya arsitektur modern. Bangunan kantor ini berbatasan dengan Kantor Telkom disebelah utara, Jalan Balai Kota disebelah timur, Kanal disebelah selatan, dan Jalan Balai Kota disebelah barat. Bangunan ini dibangun sebagai sarana untuk memperlancar hubungan surat menyurat dan komunikasi oleh orang-orang Eropa dan Bangsawan. Pada tahun 1954 setelah sepenuhnya digunakan oleh pemerintahan Indonesia, bangunan ini difungsikan sebagai sentral analog yang mencakup daerah ujung pandang dan sekitarnya. Tahun 1970 mulai ditambah bangunan sebagai pelengkap prasarana dari kebutuhan telekomunikasi tersebut.

2.3. Sarana Sosial
2.3.1. Gedung Harmoni de Societeit

 

Letak gedung Harmoni de Societeit yaitu di Kelurahan Pattunuang, Kecamatan Wajo, tepatnya di Jalan Rinburane/Bonerate. Bangunan ini berada di atas lahan tanah pemerintah seluas 55,70 x 42,50 m. Societeit de Harmoni, berarti gedung perkumpulan Harmoni. Gedung ini dibangun pada tahun 1896. Bangunan asli yang dibangun yang dibangun pada tahun 1896 ini, pernah dilakukan pemugaran dengan memperbesar bangunan pada tahun 1910-an. Bangunan awal abad ke XX itulah yang nampak sampai sekarang.
Bangunan ini berdiri langsung didepan jalan raya dengan bentuk asimetris. Bentuk asimetris ini ditandai oleh adanya menara pada sisi timur. Dilihat dari segi arsitekturnya serta masa dimana bangunan ini berdiri memakai gaya campuran, dan dapat dikategorikan sebagai bangunan yang lebih awal menerapkan adanya unsur-unsur arsitektur modern. Bentuk atap berupa limasan berkemiringan tajam merupakan unsur local yang diterapkan pada bangunan. Sedang atap pada menara berbentuk kubah, runcing, dan patah ditengah berbentuk bujur sangkar.

2.3.2. Kompleks Makam Raja-Raja Tallo

 

Makam Raja-Raja Tallo terletak di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, sekitar enam kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar (Lapangan Karebosi). Makam-makam di kompleks ini umumnya berciri makam abad XVII yang menyerupai bangunan candi. Terbuat dari batu cadas dan batu bata dari tanah liat yang direkatkan satu sama lain. Total luas kompleks makam adalah satu hectare. Tertata sebagai sebuah taman yang teduh karena banyak pohon besar dan rindang. Terdapat 78 makam di kompleks tersebut. berisi makam Raja Tallo pertama beserta anak cucunya.
Makam-makam itu memiliki tiga tipe yang berbeda-beda. Tipe pertama adalah susun timbun, yaitu makam yang dibuat dari susunan balok-balok batu persegi menyerupai candi. Terdiri atas kaki, tubuh, dan atap dengan bagian dalam yang berongga. Tipe kedua adalah papan batu, yaitu makam yang dibuat menurut bangunan kayu yang terdiri dari empat bilah papan batu berbentuk empat persegi panjang. Tipe ketiga adalah bangunan kubah, yaitu makam dengan bangunan berongga dan berdiri di atas batu segiempat, dengan atap kubah terdiri atas empat bidang lengkung. Makam para raja ini memiliki beragam hiasan, antara lain hiasan tumbuh-tumbuhan, medallion, tumpal, huruf arab, dan huruf lontara (tulisan khas Bugis-Makassar).

2.3.3. Makam Pangeran Diponegoro
Makam Pangeran Diponegoro terletak di kota Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, kelurahan Melayu, kecamatan Wajo. Sekitar empat kilometer sebelah utara pusat kota Makassar (Lapangan Karebosi). Kompleks makam Pangeran Diponegoro merupakan bangunan sederhana. Terdiri dari pintu gerbang pendopo dan 66 bangunan makam. Diklasifikasikan menjadi dua makam ukuran besar, 25 makam ukuran sedang dan 39 makam ukuran kecil. Makam-makam tersebut adalah makam Diponegoro dan istrinya, enam orang anaknya, 30 orang cucu, 19 orang cicit, dan Sembilan orang pengikutnya. Makam Pangeran Diponegoro dan istri adalah bangunan terbesar. Menggunakan bahan batu bata, semen, dan batu hongkong. Memiliki atap dengan tiang kayu. Lokasi seputaran makam ditumbuhi beberapa pohon yang membuatnya agak sejuk. Sebelum tahun 1970, kondisi kompleks makam pahlawan nasional ini tidak sebaik sekarang. Pada tahun 1969, Kodan IV Diponegoro (Jawa Tengah) member bantuan materi untuk rehabilitasi kompleks tersebut. masyarakat setempat juga kerap memberikan bantuan. Tahun 2007 lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memberikan bantuan untuk merenovasi kembali.

2.4. Bangunan Keagamaan/Tempat Ibadah
2.4.1. Gereja Immanuel

 

Gereja Immanuel terletak di Jalan Balai Kota. Bangunan ini dibangun pada tahun 1885 dan diresmikan oleh DS.J.C. Knuttel, pada tanggal 15 September 1885. Mengalami tambahan bangunan kebelakang tahun 1977 (khusus gereja). Bangunan ini merupakan bangunan dengan tipe Eropa yang terbuat dari batu bata, semen, dan kayu. Denah bangunan simetris dengan arah hadap bangunan menghadap ke barat. Bentuk tata ruang terdiri dari ruang terbuka segiempat. Ruang terbuka ini kemudian dibagi dalam tiap bagian masing-masing terdiri atas; mimbar dengan ruang persiapan di kiri kanan yang terletak di bagian depan; nave yaitu tempat umat yang berada pada bagian tengah ruangan serta balkon yang berada pada bagian bangunan paling belakang.
Arsitektur bangunan yang sederhana juga dapat terpancar dari wajah depan, yang mana hanya berupa bidang datar pada bagian atasnya meruncing mengikuti kemiringan atap bentuk pelana dengan dua sisi miring. Pada sisi utara bangunan terdapat bangunan yang difungsikan sebagai rumah tinggal pendeta.

2.4.2. Gereja Katedral

 

Gereja katedral terletak di Jalan Kajaolalido. Lokasinya tepat dii jalan sisi barat Lapangan Karebosi. Gereja ini dibangun pada tahun 1892. Dahulu, Gereja Katedral bernama Roomsch Katholieke Kerk. Gereja ini merupakan gereja tertua di kota Makassar dan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Bangunannya condong berarsitektur Eropa Gothik. Karya seorang perwira zeni bernama Swartbol. Namun ketika bangunan belum rampung, Swartbol berangkat ke Eropa. Ia digantikan S. Fischer, seorang ahli pengairan. Gereja ini dan lingkungan sekitarnya, sangat terawat dan bersih. Gereja ini menjadi pusat dari kegiatan umat Kristiani setiap tahun seperti Natal Oikumene. Di bagian belakang gereja ini sekarang berdiri sebuah sekolah. Gereja ini memiliki tiga buah lonceng pemberian Mr. Scharpf pada tahun 1923. Lonceng itu diletakkan dalam sebuah meanra di sisi selatan bangunan gereja. Menara itu sendiri telah mengalami perombakan berkali-kali dengan pertimbangan estetika.

2.4.3. Kelenteng Ma Tjo Poh Ibu Agung Bahari atau Thian Ho Kong

 

Klenteng Ibu Agung Bahari terletak di RK 9, kelurahan Pattunuang, kecamatan Wajo, kota Makassar, tepat di Jalan Sulawesi nomor 41, Sulawesi Selatan. Klenteng dibangun pada tahun 1738. Klenteng berdiri diatas areal seluas 34,20 x 22,20 m, serta memiliki ukuran bangunan induk sebesar 15,10 x 10,37 m. Klenteng ini dibuat dengan gaya arsitektur khas Cina yang sangat megah. Bangunan ini telah mengalami perbaikan kayu-kayu yang berukir, yang didatangkan dari Cina. Pilar-pilar dari batu andesit dengan ragam hias motif ular naga atau tumbuh-tumbuhan. Hamper seluruh bangunan memiliki hiasan ukiran. Bangunan klenteng ini dibangun dengan menggunakan bahan seperti: kayu, batu andesit, batu bata, genteng, dan kerang-kerang laut yang berwarna-warni. Berdasarkan pada tulisan yang ada pada prasasti yang terpasang pada salah satu sisi dinding bangunan klenteng dengan tulisan Cina, yang isinya antara lain berarti klenteng ini bernama asli Thian Hoo Kiang yang artinya Istana Ratu Langit. Pada tahun 1950,  Thian Hoo Kiang baru berubah menjadi Klenteng Ibu Agung Bahari.

2.4.4. Klenteng Kwan Kong
Klenteng Kwan Kong merupakan rumah ibadah ajaran Kong Hu Chu. Lokasinya terletak di Jalan Sulawesi nomor 172, kelurahan Pattunuang, kecamatan Wajo, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Secara astronomis terletak S. 05007’745” E. 119024’240”. Klenteng ini berdiri pada tahun 1810-an yang dibangun oleh Kiang Lok Ching, dengan gaya arsitektur China. Bangunan ini terdaftar pada Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, dengan nomor register 462. Klenteng tersebut telah mengalami pemugaran tahun 1890 dan tahun 1970. Klenteng berbatasan dengan pertokoan disebelah utara dan selatan, rumah tinggal disebelah timur, dan Jalan Sulawesi desebelah Barat.
Dewa Kwan Kong adalah dewa ajaran Kong Hu Chu. Beliau merupakan pendiri dan penyebar ajaran tersebut didaratan Tiongkok, sehingga oleh keturunan orang-orang Tionghoa dibuatkan kuil atau vihara untuk memujanya. Bangunan ini terdiri atas dua bagian. Bagian depan merupakan unit utama yang terdiri atas dua lantai dan bagian belakang terdiri dari lima lantai. Lantai 1 untuk Dewa Kwan Kong, Lantai 2 untuk Kantor Yayasan Setia Dharma, Lantai 3 untuk ruang santai, Lantai 4 untuk pemondokan, Lantai 5 untuk Budha Gautama dan Avalokotevara Budhi Satwa, dan Lantai 6 untuk Dewa Bu Chang Kwan, Chai Po Seng Kwan, Kong Fu Cheng dan Lao Pan Shen Szee.

2.4.5. Klenteng Xian Ma

 

Lokasi Klenteng Xian Ma terletak di sudut Jalan Sulawesi dan Jalan Bali. Klenteng pada mulanya terbuat dari kayu dan bambo serta beratapkan daun nipah. Namun pada sekitar tahun 1860, barulah dibangun dari batu bata, sehingga menjadi bangunan permanen. Klenteng mengahadap ke arah barat. Bangunan klenteng berciri arsitektur Cina. Dibeberapa bagian bangunan, dipenuhi dengan ukiran, relief, patung, dan kaligrafi yang pada umumnya berbentuk naga.

2.4.6. Rumah Leluhur Marga Thoeng

 

Lokasi Rumah Leluhur Marga Thoeng, yakni di Jalan Sulawesi, kelurahan Ende, kecamatan Wajo, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Bangunan ini didirikan oleh Marga Thoeng abadi, pada tahun 1898 dengan gaya arsitektur Cina. Bangunan ini terdiri atas dua unit, yaitu gapura dan ruang persembahyangan. Diantara gapura dan tempat persembahyangan terdapat halaman kosong yang tidak beratap. Bangunan inii didirikan sebagai penghormatan kepada arwah pemimpin dan leluhur.

2.4.7. Masjid Arab Assyaadi

 

Bangunan masjid ini berada di Jalan Lombok, kelurahan Ende, kecamatan Wajo, Makassar. Masjid ini dibangun pada tahun 1907 oleh salah satu keluarga Melayu yang berketurunan Arab. Bangunan masjid ini berada di pemukiman penduduk Cina yang padat. Jalan menuju ke masjid ini, kita harus melewati sebuah gang kecil dari Jalan Lombok. Denah dasar bangunan berbentuk segiempat berlantai dua. Bangunan utama untuk umat, dikelilingi oleh serambi di kiri-kanan dan depan. Atap terdiri atas tiga bagian dan ditopang oleh empat soko guru. Pada bagian depan terdapat mihrab berdampingan dengan mimbar, sedang pada bagian barat daya terdapat menara azan.
Masjid ini memiliki empat buah soko guru berbentuk Klasik Yunani order doric yaitu silindris yang menggelembung dibagian tengah, dan dihias secara sederhana oleh molding di kaki dan kepalanya. Selain itu, terdapat pula tiang-tiang besi berprofil lingkaran, serta plafon terbuat dari papan yang sekaligus digunakan untuk lantai atas. Atap masjid berbentuk limasan, tapi saat ini telah diganti dengan kubah. Masjid ini merupakan tempat pertemuan warga keturunan Arab di Makassar dan menjadi symbol persatuan dan kesatuan masyarakat Arab yang ada di Sulawesi Selatan pada umumnya dan Makassar pada khususnya.

2.4.8. Gereja Katholik Susteran

 

Lokasi Gereja Khatolik Susteran terletak di Jalan Lamadukelleng atau Jalan Bassi Weg. Terletak di kelurahan Losari, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Letak astronomis gereja ini, yaitu S. 05008’709”, E 119024’671”. Gereja ini merupakan milik dari Yayasan Josep. Gereja didirikan pada tahun 1928 yang dibangun oleh umat Khatolik. Bangunan bergaya arsitektur New Eropa. Disebelah utara berbatasan dengan pompa bensin, Jalan Arif Rate disebelah timur, Jalan Yosef Latumahina disebelah selatan, dan Jalan Lamadukelleng disebelah barat. Gereja ini menggunakan struktur modern yang menggunakan kerangka atap beton bertulang, berdenah dasar segiempat panjang, yang terdiri dari sunctuarl, navs dan altar serta balkon. Gereja ini merupakan bagian dari blara, tempat para suster katolik menerima pendidikan.

2.5. Bangunan Sekolah/Pendidikan
2.5.1. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)

 

Gedung MULO dibangun oleh pemerintah colonial Belanda pada tahun 1927, dan memiliki gaya arsitektur Klasik Eropa dipadu dengan tradisional. Bangunan ini berlokasi di Hospitalweg, yang kini Jalan Jenderal Sudirman nomor 23, kelurahan Mangkura, kecamatan Ujung Pandang, Makassar. Bangunan ini difungsikan sebagai sekolah lanjutan tiga tahun, khusus bagi anak-anak pribumi yang orang tuanya mengabdi pada Belanda dan dipersiapkan untuk kebutuhan pegawai pangreh praja. Tetapi saat ini, gedung ini difungsikan sebagai kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ProvinsiSulawesi Selatan, yang sebelumnya berfungsi sebagai Kantor Wilayah Depdiknas. Sebagai peninggalan sejarah, gedung MULO dilindungi undang-undang dengan nomor register 327 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Bentuk bangunan mengikuti konsepsi “garden city”, yaitu dikelilingi oleh halaman depan dan dalam yang sangat luas. Bangunan ini tidak bertingkat dan terdiri dari tiga unit memanjang disambung menjadi satu membentuk segi-segi tidak teratur, satu sisi menghadap ke barat, sedangkan dua sisi lainnya masing-masing menghadap ke barat laut dan utara. Bangunan ini terletak di sudut jalan dan pintu utama terletak di unit tengah menghadap ke sudut atau barat laut. Banyaknya jendela, pintu, ventilasi yang hamper memenuhi semua permukaan dinding samping serta jarak antara lantai dengan plafon yang cukup tinggi, menandakan bahwa bangunan tersebut juga memiliki aspek tropis.

2.5.2. SMP Negeri 6 Makassar
Gedung SMPN 6 Makassar tercatat dalam Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, dengan nomor register 553 karena dulu bangunan ini digunakan sebagai Sekolah Dasar untuk Oorang-orang Eropa (Eerste Europeache Loger School). Gedung ini berlokasi di Jalan Ahmad Yani nomor 25, kelurahan Baru, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Secara astronomis terletak pada S. 05008’01” E. 119024’573”. Pendirian bangunan dilakukan pada tahun 1910 oleh pemerintah Belanda, dengan gaya arsitektur Modern. Berdiri diatas lahan seluas 3.765 m2 dan memiliki luas bangunan 2.098 m2. Bangunan berbatasan dengan Jalan Ahmad Yani disebelah utara, kanal disebelah timur, pemukiman disebelah selatan, dan Kadin disebelah barat. Bangunan ini berdenah dasar berbentuk T. Konstruksi batu bata dan atap genteng. Bagian depan adalah deretan ruang kelas dan teras, sedangkan bagian belakang adalah aula.

2.5.3. Sekolah Kejuruan Pelayaran Untuk Pribumi atau Kweekschool Voor Inlandsche Schepelingen Te Makassar

 

Kweekschool voor Inlandsche Schepelingen te Makassar terletak di Jalan Rajawali, kelurahan Pannambungan, kecamatan Mariso, Makassar. Letak astronomis bangunan ini, yaitu S. 05009’22”, E. 119024’07”. Bangunan ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1916, dengan gaya arsitektur modern. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai Sekolah Kejuruan Pelayaran untuk pribumi, tetapi sekarang telah digunakan oleh Markas Batalyon Zeni Tempur 08 Kodam VII Wirabuana. Disebelah utara berbatasan dengan Perumahan Perwira Kodam VII, Jalan Rajawali disebelah selatan dan barat, serta pemukiman dan pantai disebelah barat. Bangunan depan gedung berbentuk segiempat menghadap ke Timur, dengan pintu masuk utama melalui gerbang. Pada sisi kiri dan kanan, terdapat dua unit bangunan yang berfungsi sebagai ruang kelas dan kantor. Sekolah pelayaran pertama untuk pribumi dibangun untuk memenuhi kebutuhan pelaut pribumi untuk mendukung kota Makassar sebagai kota maritim.

2.5.4. Sekolah Frater Makassar atau Menalia

 

Bangunan Sekolah Frater Makassar atau yang dulu bernama Menalia, berlokasi di Jalan Thamrin, kelurahan Baru, kecamatan Ujung Pandang, Makassar. Bangunan sekolah ini didirikan oleh umat Katolik dengan ciri arsitektur Neo Eropa, pada tahun 1934. Bangunan ini berdenah dasar U yang terdiri dari SD Frater,dan SMP Frater. SD Frater pada bagian barat, dan SMP Frater pada bagian timur. Bangunan utama sekolah terdiri dari ruang kelas, dan ruang guru. Pada bagian belakang, terdiri atas ruang-ruang kelas, aula dan ruang guru. Sekolah ini didirikan untuk anak-anak bangsa Eropa khusus putra.

2.5.5. SMP Negeri 5 Makassar

 

Bangunan SMP Negeri 5 Makassar terletak di Jalan Sumba, kelurahan Pattunuang, kecamatan Wajo, Makassar. Bangunan ini berdiri pada tahun 1930-an, yang bergaya arsitektur modern. Dahulu bangunan ini adalah sekolah menengah pertama Loen Djie Tong yang khusus mendidik warga keturunan Cina. Denah dasar bangunan berbentuk U, yang terdiri atas tiga lantai. Bangunan utama terletak pada bagian depan yang terdiri dari gedung kantor, ruang kelas dan perpustakaan. Bangunan pada bagian Barat dan Timur adalah ruang belajar.

2.6. Bangunan Kesehatan
2.6.1. Apotik Kimia Farma
Apotik Kimia Farma dulu bernama Rathkamp, terletak di Jalan Ahmad Yani nomor 17. Berada di kelurahan Pattunuang, kecamatan Wajo, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Secara astronomis, bangunan ini terletak pada S. 05007’10”, E. 119024’08”. Bangunan ini didirikan pada tahun 1920 oleh Belanda dengan gaya arsitektur Eropa Modern. Bangunan ini memiliki luas 2.260 m2, dan berdiri di atas areal 3.800 m2. Bangunan ini berbatasan dengan ruko disebelah utara, kompleks pertokoan disebelah timur, Jalan Ahmad Yani disebelah selatan, dan PT. Intim Utama Mobil disebelah barat. Bangunan terdiri atas dua unit, yaitu salah satu diantaranya rumah kodok. Bangunan Apotik Kimia Farma merupakan salah satu bangunan Belanda yang diambil alih oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1957. Bangunan yang bergerak dibidang Farmasi dialihkan ke Kimia Farma. Fungsi awal bangunan ini adalah salah satu perusahaan Belanda yang bergerak dibidang Farmasi.

2.6.2. Rumah Sakit Stella Maris
Rumah sakit Stella Maris terletak di Jalan Penghibur, kelurahan Maloku, kecamatan Makassar. Bangunan ini didirikan oleh kongregasi suster katolik pada tahun 1938, dengan gaya arsitektur Modern. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas 14.658 m2. Gedung ini didirikan oleh suster-suster tarekat JMJ mulai Oktober 1938. Diresmikan 17 Januari 1940. Tahun 1942-1945 Rumah Sakit Stella Maris diambil alih oleh pemerintah Jepang dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan kedokteran. Tahun 1947, Rumah Sakit Stella Maris dikembalikan kepada suster-suster JMJ oleh menteri Kesehatan.

2.7. Bangunan Pertahanan
2.7.1. Benteng Fort Rotterdam

 

Benteng Fort Rotterdam terletak di Jalan Ujung Pandang nomor 1, kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Letaknya persis di depan pelabuhan laut kota Makassar. Benteng Ujung Pandang semula dibangun pada tahun 1545 M, pada masa Pemerintahan Gowa ke-10, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung (Karaeng Tunipalangga). Pada tahun 1634 tembok benteng ini ditata kembali atas perintah Raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin. Pada tahun 1667 Benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan Belanda, setelah kerajaan Gowa kalah dalam perang Makasar dan dipaksa menandatangani ”Perjanjian Bongaya” (Het Bongaisch Verdrag – 18 November 1667). Belanda kemudian mengubah benteng ini dari bentuk segi empat dikelilingi lima bastion, menjadi berbentuk trapesium dengan tambahan satu bastion di sisi barat. Di dalam benteng ini dibuat unit-unit bangunan bergaya gotik. Nama benteng diubah menjadi Fort Rotterdam nama kota tempat kelahiran Gubernur Jendral Belanda, Cornelis Speelman.
Penamaan Benteng Ujung Pandang karena letaknya berada pada sebuah tanjung/ujung yang banyak ditumbuhi pohon pandan. Benteng ini apabila dilihat dari udara bentuknya menyerupai seekor penyu, itulah sebabnya di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Gowa menyebutnya Benteng Pannyua (penyu). Dari segi fungsinya, dapat dikatakan pada zaman Kerajaan Gowa, Benteng Ujung Pandang berfungsi sebagai benteng pertahanan yang di dalamnya terdapat bangunan khas Makasar. Kemudian oleh Belanda dibongkar yang kemudian diubah menjadi bangunan berarsitektur Belanda yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan, benteng ini juga merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian kerajaan, juga pada saat dikuasai Belanda. Namun di zaman kependudukan Jepang berubah fungsi sebagai pusat penelitian ilmiah, utamanya bahasa dan pertanian. Hingga saat ini, Benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat perkantoran di antaranya Museum La Galio, Suaka Peninggalan Sejarah, Dewan Kesenian Makasar, dan sebagai Pusat Olah Seni.

2.7.2. Bunker Jepang
Bunker Jepang terletak di Jalan Amanagappa nomor 12, kelurahan Baru, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Secara astronomis, Bunker jepang terletak pada S. 05008’15”, E. 119024’10”. Bunker tersebut dibangun oleh kolonial Jepang dan didirikan pada tahun 1942 dengan gaya arsitektur Jepang. Bangunan ini berbatasan dengan Jalan Amanagappa disebelah utara, rumah Bapak Nasrun disebelah timur, rumah Bapak Tinggi disebelah selatan, dan Koramil 07 disebelah barat. Bangunan ini menyerupai botol, pintu masuk ada dua, masing-masing pada bagian timur dan barat, serta dibuat dari bahan campuran beton. Dibangun sebagai tempat pertahanan dan pengintaian.


BAB III
PENUTUP

Kota Makassar yang merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki tinggalan-tinggalan arkeologi berupa tinggalan kolonial. Hal ini dikarenakan pada masa lalu, Makassar pernah berlangsung peristiwa besar dimana pernah terjadi imperialisme dan kolonialisme Belanda. Kejadian tersebut meninggalkan bukti-bukti, berupa terdapatnya sejumlah bangunan/situs peninggalan sejarah dan purbakala yang menyebar di kota Makassar. Bangunan tersebut antara lain: Benteng, Klenteng, Masjid kuno, Makam kuno, dan bangunan bersejarah lainnya.
Bangunan-bangunan tinggalan kolonial tersebut, tersebar diberbagai tempat di Makassar. Bangunan tersebut ada yang telah terdaftar oleh SPSP Sulselra (Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara), ada pula yang belum terdaftar. Selain itu, banyak pula bangunan-bangunan kolonial yang tidak terawatt dan ada pula yang telah dihancurkan.
Bangunan-bangunan tinggalan kolonial yang ada di Makassar, memiliki bentuk yang hampir mirip antara bangunan yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan dalam pembangunannya, diterapkan konsep dalam pendirian bangunan, bentuk dan konstruksi dalam membangun. Ada dua konsep yang diterapkan dalam pendirian suatu bangunan, yaitu langsung dibangun di atas jalan tanpa adanya halaman depan, dan pendirian bangunan dengan menggunakan konsep “garden city”, yaitu bangunan dengan halaman atau taman yang luas.
Secara garis besar bentuk bangunan kolonial terdiri atas dua, yaitu bentuk simetris dan asimetris. Namun jika dilihat dari unit-unit ataupun bentuk tata ruang dari bangunan dapat dibagi atas tiga tipe, yaitu terdiri atas unit tunggal atau terdiri dari beberapa unit tetapi unit utama mempunyai ukuran lebih besar dari unit lainnya, terdiri dari unit-unit tipis memanjang yang jarak dinding-dinding samping relative pendek, dan gabungan antara keduanya. Sedangkan secara garis besar sistem konstruksi yang digunakan pada bangunan kolonial terdiri atas bahan batuan dan kayu.



DAFTAR PUSTAKA

Asmunandar.  2008. Tesis: Membangun Identitas Makassar Melalui Kota Kuna Makassar. Yogyakarta: UGM.
http://www.panoramio.com/photo/6746962. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.panoramio.com/photo/ 6746992. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.panoramio.com/photo/ 6746982. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.panoramio.com/photo/ 6526267. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.panoramio.com/photo/ 6525845. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.panoramio.com/photo/ 6746952. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.panoramio.com/photo/ 6526227. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.gowata.co.id/makam_raja _tallo. Didownload, 14 Mei 2010.
http://www.multiply.com/benteng_fort_rotterdam. Didownload, 14 Mei 2010.
Masdoeki, Drs., dkk. 1985. Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Di Kotamadya Ujung Pandang. Ujung Pandang: Suaka Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Sulawesi Selatan.
SPSP Sulselra. 2000. Pencagarbudayaan. Makassar: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Sumantri, Iwan. 2004. Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan. Makassar: Ininnawa.

Tidak ada komentar: